spot foto Yogyakarta

JOGJA MENAWARKAN SERIBU KEINDAHAN
Semua bisa dinikmati dari yogyakarta budaya alam masyarakat pun ramah tamah berikut adalah spot foto terindah di jogja

1. Hamparan pegunungan karst Gunung Api Purba Nglanggeran seolah menyiratkan bahwa Dolaners sedang berada di belahan negara lain

Gunung Api Purba Nglanggeran Gunung Api Purba Nglanggeran - Dolan Dolen
Gunung Api Purba Nglanggeran via bukanagustapitina.wordpress.com
Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan salah satu gunung berapi di Jawa Tengah yang beberapa puluhan juta tahun silam berstatus aktif. Dan kini Gunung Nglanggeran ini telah resmi dinyatakan gunung tidak aktif. Gunung ini berbentuk bongkahan batu andesit raksasa yang membentang sekitar 800 meter dan berdiri setinggi 300 meter. Panorama wisata yang ditawarkan di Pegunungan Nglanggeran ini meliputi sunrise dan sunset matahari, sekaligus terbitnya bulan pada malam hari. Gemerlap jutaan bintang yang tersebar dilangit dapat Dolaners nikmati pada malam hari. Beragam kegiatan yang dapat Dolaners lakukan seperti panjat tebing atau rock climbing yang menantang, keindahan alam berupa deretan pegunungan dan perkampungan penduduk yang menarik semakin menambah keunikan Gunung Api Purba. Hal inilah yang menarik banyak para Dolaners untuk datang berkunjung ketika berada di Jogja.

2. Dolaners lagi gabut? Mau liburan tapi males panas panasan? Ya udah pinknik di Kebun Buah Mangunan aja, dijamin pikiran langsung fresh

Kebun Buah Mangunan Kebun Buah Mangunan - Dolan Dolen
Kebun Buah Mangunan via eibidiei.wordpress.com
Jika Dolaners sedang ingin mencari liburan yang berbeda dengan kebanyakaan pada umumnya, maka yang satu ini perlu diccoba. Kebun Buah Mangunan merupakan sebuah objek wisata yang berada di daerah Bantul atau tepatnya di kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Taman Buah Mangunan dibangun di atas lahan seluas 23,3 hektar dengan berada pada ketinggian 150 – 200 mdpl. Di kebun buah ini Dolaners bisa melihat berbagai macam pohon buah seperti rambutan, belimbing, durian, jeruk, dan masih banyak lagi. Sebenarnya objek utama dari Taman Buah Mangunan adalah puncaknya yang memiliki pemandangan yang sangat indah dengan hamparan perkebunana hijau yang menyejukan mata. Bagaimana tidak, di puncak Taman Buah Mangunan Dolaners akan disuguhi oleh pemandangan Pegunungan Sewu yang sudah tidak diragukan lagi keelokannya. Pemandangan itu semakin indah dipadu dengan pemandangan Sungai Oyo yang airnya berwarna hijau toska nan bening.

3. Mari merasakan sensasi film Twilight di Hutan Pinus Imogiri

Hutan Pinus Imogiri Hutan Pinus Imogiri - Dolan Dolen
Hutan Pinus Imogiri via pecintaalam.org
Ingin berlibur dengan nuansa yang berbeda? Yuk, berkunjung ke Hutan Pinus Imogiri. Hutan pinus ini terletak berdekatan dengan Kebun Buah Mangunan. Hutan Pinus Imogiri ini sendiri memiliki keistimewaan yakni jika Dolaners berada di hutan ini maka akan merasakan seolah sedang berada di forks, yang merupakan tempat syuting film Twilight. Mengapa demian? Karena tanah yang dimiliki Hutan Pinus Imogiri ini berwarna coklat kemerahan dengan ditumbuhi banyak pohon pinus yang ketinggiannya bisa mencapai puluhan meter persis seperti di film kesukaan Dolaners tersebut. Di hutan Pinus Imogiri ini terkenal keindahannya dan keunikannya sehingga tidak jarang hutan pinus ini dijadikan tempat untuk foto hunting suatu brand, hingga pernah dijadikan lokasi syuting dari salah satu film layar lebar dalam negeri. Hutan Pinus Imogiri ini akan terlihat sangat memukau apabila Dolaners berkunjung pada pagi hari. Dolaners akan bisa merasakan hawa segar hutan yang masih tertutup kabut tetapi di sela-sela kanopi pohon terpancar sinar matahari yang menembus sampai ke dasar tanah.

4. Hijaunya bukit, birunya laut, desahan angin di Puncak Kosakora akan membuat Dolaners semakin mencintai segala ciptaan-Nya

Puncak Kosakora Puncak Kosakora Cover - Dolan Dolen
Puncak Kosakora via diasporaiqbal.blogspot.co.id
Kosakora merupakan nama sebuah puncak dari bukit yang ada di tepian pantai. Puncak Kosakora ini menawarkan keindahan yang sangat menawan. Dari Puncak Kosakora Dolaners dapat melihat pemandangan perbukitan, pemandangan pantai, sunrise dan sunset diatas Puncak Kosakora. Puncak Kosakora populer sebagai tempat favorite untuk hunting foto di kalangan anak muda kekinian yang hobi jalan-jalan. Tangga batuan karst yang curam pun harus ditaklukkan untuk mencapai puncaknya yang memiliki panorama pantai menawan dari ketinggian. Di Puncak Kosakora ini tak jarang banyak Dolaners yang mendirikan tenda untuk beristirahat sembari menikmati alam lengkap dengan ditemani para sahabat tercinta.

5. Watu Lumbung, sebuah pantai lengkap dengan perbukitannya siap menanti siapa saja yang datang

Watu Lumbung Watu Lumbung - Dolan Dolen
Watu Lumbung via diasporaiqbal.blogspot.co.id
Watu Lumbung merupakan nama dari sebuh pantai yang berlokasi tak jauh dari Pantai Wediombo yakni tepatnya berada di kawasan Jepitu, Girisubo, Yogyakarta. Yang menjadikan pantai ini begitu fenomenal di social media adalah adanya sebuah bukit cantik lengkap dengan hamparan karan disekitarnya yang memiliki formasi yang unik. Untuk bisa sampai ke Pantai Watu Lumbung ada 2 pilihan akses jalan yang bisa Dolaners tempuh. Yang pertama, Dolaners dapat berjalan kaki dari Pantai Wediombo ke arah barat selama kurang lebih satu jam. Atau yang kedua, yakni setelah Dolaners tiba di TPR Pantai Wediombo, Dolaners berbelok ke kanan, melewati ladang warga hingga sampai di ujung jalan, dari sini Dolaners bisa tracking menuruni perbukitan untuk bisa sampai ke bibir Pantai Watu Lumbung.Selain menyuguhkan panorama pantai selatan yang eksotis, Pantai Watu Lumbung juga menawarkan pemandangan senja yang tidak bisa Dolaners nikmati di tempat lain. Tak hanya itu saja di kawasan pantai ini juga terdapat sebuah Kampung Edukasi Watu Lumbung.

6. Dimanjakan dengan segala fasilitas number one di Queen of South Resort menjadikan Dolaners bagai Ratu Pantai Selatan

Queen of South Resort Parangtritis Queen of South Resort Parangtritis - Dolan Dolen
Queen of South Resort Parangtritis via fisaycheezt.blogspot.co.id
Queen of The South Resort adalah nama dari sebuah hotel yang berada di atas bukit Pantai Parangtritis. Hotel ini merupakan salah satu hotel yang namanya cukup termasyur. Hotel romantis bergaya semi rumah joglo dengan kolam renang dan kamar kamar luas yang langsung menghadap ke Pantai ini menawarkan kenyaman dan privasi bagi setiap Dolaners yang datang. Keasyikan menunggang kuda berkeliling taman atau menyusuri pantai adalah beberapa kegiatan uanggulan yang dihadirkan di resort berbintang 3 ini dan tak akan pernah Dolaners temukan di hotel maupun resort lain. Tak hanya itu salah satu kegiatan favorite setiap pasangan yang datang adalah mereka makan malam berdua dengan ditemani cahaya lilin cantik di atas meja. Suasana romantis ditemani jembusan angin dan suara deburan ombak seakan membuat siapa saja ingin menjadikan Queen of The South Resort sebagai saksi tempat melamar.

7. Menyaksikan tegaknya pohon abadi yang katanya ‘penjaga’ Pantai Kesirat

Pantai Kesirat Pantai Kesirat Cover - Dolan Dolen
Pantai Kesirat via yukpiknik.com
Barisan tebing di kawasan pantai ini berwarna hijau segar. Dari atas tebing, Dolaners bisa menyaksikan hamparan panorama birunya air laut serta debur ombak yang eksotis. Belum banyak orang yang tahu tentang pantai ini, jadi wajar bila suasananya masih terasa alami. Selain menawarkan keindahan alam yang sangat mempesona, Pantai Kesirat juga merupakan surga bagi para pemancing maupun nelayan untuk mencari ikan laut. Jadi jangan heran bila Dolaners menemui beberapa pemancing atau nelayan di kawasan ini. Bila mau, Dolaners bisa bergabung dengan mereka dan memancing bersama. Hampir sama seperti Pantai Pok Tunggal yang mempunyai sebuah pohon sebagai ikonnya, Pantai Kesirat juga mempunyai satu pohon abadi yang disebut Pohon Gebangkoro. Pantai Kesirat sangat cocok dijadikan sebagai lokasi pemotretan atau pre wedding. Dari sini, Dolaners akan mendapatkan pemandangan sunset maupun sunrise yang sempurna.

8. Unik! Jembatan Gantung Selopamioro, jembatan cantik icon sebuah desa wisata

Jembatan Gantung Selopamioro Jembatan Gantung Selopamioro - Dolan Dolen
Jembatan Gantung Selopamioro via potensiwisata.bantulkab.go.id
Bukit terjal di antara jembatan dan Sungai Oya menjadi pemandangan dahsyat yang bisa Dolaners temukan ketika sedang berdiri di atas Jembatan Gantung Selopamioro. Sepoi angin silir dan hijaunya persawahan dan bukit saat musim penghujan akan berubah kontras dengan meranggasnya pepohonan ketika musim kemarau tiba. Jembatan Gantung Selopamioro sebenarnya merupakan akses penting antar Desa Selopamioro dengan Desa Sriharjo yang terpisah oleh Sungai Oya. Yang membuat unik, saat sore hari, air dari Sungai Oya ini memantulkan cahaya jingga efek dari tenggelamnya sang surya. Semuanya seakan menggambarkan kemolekan hamparan tebing batu yang menjulang gagah di sebelah Selatan dan Utara Jembatan Selopamioro. Keunikan serta keberadaan jembatan ini menarik banyak para pecinta fotografi untuk datang. Tak jarang tempat ini dijadikan lokasi foto pre-wedding. Lokasi perbukitan dengan segudang keunikan yang khas menjadi alasannya.

9. Embung Nglanggeran, tempat wisata baru yang langsung melejit berkat social media

Embung Nglanggeran Embung Nglanggeran - Dolan Dolen
Embung Nglanggeran by Yanuar Wisnu
Mau tau apa aja yang baru di Jogja? Ini nih yang lagi hits di social media. Adalah Embung Nglanggeran, embung sendiri adalah sebutan orang Jawa bagi kata telaga. Sebenarnya Embung Nglanggeran merupakan sebuah telaga buatan yang difungsikan untuk mengairi perkebunan buah yang ada di sekitar Gunung Api Purba Nglanggeran. Namun karena keelokannya, kini selain sebagai sumber pengairan, Embung Nglanggeran juga mempunyai fungsi ganda sebagai objek wisata. Embung Nglanggeran sendiri terletak di pinggang daripada Gunung Api Purba Nglanggeran. Lokasi embung dulunya merupakan sebuah bukit yang kemudian dipotong dan dijadikan telaga buatan. Untuk mencapai lokasi Embung Nglanggeran Dolaners harus mendaki puluhan anak tangga yang berkelok-kelok. Begitu tiba di puncak, mata akan disuguhi pemandangan telaga buatan yang indah. Ditambah lagi pemandangan gugusan batu raksasa yang memanjakan mata. Di sisi lain Dolaners juga bisa memandang hamparan lembah berwarna hijau.

10. Bukit Gupit Giricahyo, spot menarik untuk menikmati Pantai Parangtritis dari sisi yang tak biasa

Bukit Gupit Giricahyo Bukit Gupit Giricahyo - Dolan Dolen
Bukit Gupit Giricahyo via jurnalsabtumalam.wordpress.com
Pingin tahu bagaimana cara menikmati keindahan Pantai Parangtritis yang terkenal akan fenomena sunsetnya? Gini nih caranya. Bagi Dolaners para pecinta olahraga ekstrime paralayang di Yogyakarta maka bukit Gupit ini sudah tidak asing lagi di telinga. Bukit Gupit Giricahyo atau yang biasa disebut Bukit Paralayang Parangtritis ini memang menjadi lokasi favorite bagi mereka yang sedang berlatih paralayang. Tempat ini memang sangat cocok untuk dijadikan lokasi kegiatan olahraga paralayang, bahkan pernah digunakan sebagai tempat penyelenggaraan event bertaraf nasional yaitu Jogja Air Show 2014. Bukit ini sendiri masuk ke dalam wilayah Desa Giricahyo, Gunungkidul Di Bukit Paralayang Parangtritis Dolaners juga bisa menemukan beragam situs peninggalan bersejarah seperti Candi Gembirowati, Sendang Beji dan Pasanggrahan Gembirowati. Ada pula Goa Lengse yang juga tak kalah fenomenal.

sekatenan

SEKATENAN Yogyakarta
Sekatenan adalah salalh satu event yang cukup terkenal di Yogyakarta.event ini dilakukan setiap satu tahun seekali
Sekaten sebagai sebuah tradisi mempunyai tiga dimensi, yaitu dimensi sosial, dimensi religius dan dimensi budaya. Dimensi sosial, karena sekaten sebagai suatu sarana bagi warga Yogyakarta untuk saling berinteraksi. Ini diwujudkan dengan adanya pasar malam sebelum sampai selesainya waktu tradisi sekaten. Dimensi religius karena tradisi sekaten merupakan sebuah tradisi untuk memperingati maulud Nabi Muhammad saw dan juga dilakukan pembacaan riwayat Nabi Muhammad saw. Dimensi religius juga terlihat dari gending-gending khusus yang dibunyikan dalam tradisi Sekaten yang merupakan gending pujian kehadlirat Allah SWT dan Shalawat Nabi, serta ajakan untuk menjalankan Syariat Islam secara khusuk.

Dimensi budaya karena tradisi sekaten sarat dengan makna filosofis nilai-nilai kehidupan yang disiratkan melalui simbol-simbol budaya dalam tradisi sekaten, diantaranya :
1.    Kinang
Merupakan daun sirih yang dilengkapi dengan injet atau kapur masak dan gambir. Banyak dimakan ketika gamelan sekaten pertama kali dibunyikan. Gambir dan tembakau rasanya pahit, sedangkan injet hambar tetapi menimbulkan rasa dingin. Daun sirih merupakan bagian dari sad rasa (enam rasa) yaitu manis, asin, asam, pedas, pahit, dan sepet atau asam. Ini bisa diibaratkan orang hidup, bahwa kehidupan ini beraneka rasa yang menjadi penyeimbang satu dengan yang lainnya. Seperti halnya sesuatu yang pahit meski tidak enak tetapi Belem tentu merugikan karena bisa dijadikan obat.
2.    Bunga kanthil
Bunga kanthil disematkan di telinga Sultan pada saat mendengarkan gamelan sekaten dibunyikan pertama kali. Bunga kanthil yang harum ini mencerminkanajining diri atau jati diri seseorang.
3.    Sega gurih dan Endhog abang
Sega gurih dan endhog abang banyak dijual pedagang dan dimakan masyarakat pada saat miyos gangsa atau dikeluarkannya gamelan sekaten ke Bangsal Ponconiti. Sego gurih (nasi uduk) merupakan lambang dari keberkatan dan kemakmuran. Tuhan telah menyediakan sumber daya alam yang melimpah dan tinggal bagaimana manusia mengelola dan memanfaatkannya untuk kemakmuran umat, bukan malah sebaliknya menghancurkannya. Nasi uduk ini dimasak dengan berbagai macam bumbu sehingga rasanya enak meskipun tanpa lauk pauk. Hal ini dimaksudkan bahwa agar masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik, lebih enak, tentram, tenang, damai, dan tidak kurang suatu apapun.
Endhog abang (telur merah) diibaratkan bibit dari semua makhluk hidup, dan warna merah dipilih karena selain melambangkan keberanian atau optimisme hidup. Ini merupakan simbol bahwa masyarakat bisa lebih optimis dalam menghadapi hidup ini yang terkadang penuh dengan ketidakpastian. Telur ini biasanya ditusuk dengan bambu dan di atasnya diberi hiasan. Tusuk bambu itu diibaratkan dengan keberadaan Tuhan, semua makhluk adalah ciptaan Tuhan maka bibit yang telah diciptakan itu setelah menjadi bayi lalu berkembang agar selalu menghormat dan menyembah Tuhan
4.    Gunungan
Gunungan itu merupakan sedekah raja kepada rakyatnya.
5.    Grebeg
Grebeg merupakan puncak perayaan sekaten ini merupakan ungkapan syukur Ngarsa Dalem untuk rakyatnya. Grebek yang terdiri dari beberapa gunungan berisi makanan dan sayuran diberikan dengan rayahan atau berebut. Hal ini melambangkan bahwa setiap rakyat yang ingin mendapat hajat Dalem berebut karena di dalam hidup ini untuk mendapatkan sesuatu harus dengan usaha.
Begitu dalam makna yang terkandung dalam tradisi Sekaten yang dapat diterapkan manusia dalam kehidupan, sehingga diharapkan tradisi ini dapat dilestarikan sebagai salah satu budaya bangsa.

Tugu jogja

TUGU JOGJA dari MASA ke MASA
Tugu jogja,OK siapa sih yang ga kenal tugu jogja semua masyarakat tau akan icone dari jogjakarta inidulu tugu jogja di sebut TUGU GOLONG GILIK.pada zaman dahulu tugu jogja belum seindah sekarang berikut Ulasan tentang IKON itu.

  • FILOSOFI
Tugu ini dibangun pada tahun 1756, setahun setelah berdirinya keraton Yogyakarta. dibangun oleh raja Kasultanan Yogyakarta pertama yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono I pasca “pemisahan” Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasultanan Surakarta. Pembangunan tugu ini dilakukan untuk memperingati persatuan antara raja (pada saat itu pengeran mangkubumi) dengan rakyat dalam melawan Kolonial Belanda.

Hasil gambar untuk filosofi tugu jogja
Sebenarnya bentuk dari tugu jogja tidak seperti yang kita lihat sekarang. Dahulu bentuk dari puncak berbentuk bola (golong) dan bangunannya berbentuk tabung / silinder (gilig) dan setinggi 25 meter. Sehingga nama tugu ini adalah tugu golong gilig. Bentuk ini mempunyai suatu filosofi yang disebut Manunggaling Kawulo Gusti yang berarti bersatunya antara rakyat dengan raja (penguasanya).
Pada Tahun 1867 tepatnya tanggal 10 Juni atau 4 Sapar tahun Ehe 1796 (ehe: nama salah satu tahun dalam sewindu dalam penanggalan jawa) terjadi gempa dahsyat di wilayah Jogja sehingga tugu Golong-gilig ini rusak. Gempa itu juga mengakibatkan rusaknya taman sari dan banyak korban jiwa.  Bencana itu sesuai Tjandra Sengkala “Obah Trusing Pitung Bumi” yaitu catatan yang mengandung arti angka tahun 1796.
Asal tahu saja, Tugu itu ternyata juga menjadi salah satu poros imajiner pihak Kraton Yogyakarta. Jika ditarik garis lurus dari selatan ke utara, atau sebaliknya; maka akan ditemukan garis lurus ini: Laut Selatan (konon dikuasai oleh Kanjeng Ratu Kidul, istri Sultan Raja-raja Mataram), Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi.
Dipimpin oleh Opzichter Van Waterstaat (Kepala Dinas Pekerjaan Umum) JWS Van Brussel dibawah pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V Tugu ini direnovasi pada tahun 1889. Setelah pelaksanaan renovasi tugu baru itu selesai, diresmikan HB VII pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa.
Sebagai langkah lanjut tugu itu diperbaiki oleh Opzichter van Waterstaat (Kepala Dinas Pekerjaan Umum) yang saat itu dijabat oleh  JWS van Brussel di bawah pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V. Setelah renovasi tugu baru itu diresmikan HB VII pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa.
Tetapi tugu yang dibuat oleh belanda tersebut tidak seperti aslinya. Bagian puncak berbentuk runcing dan tingginya dikurangi menjadi hanya 15 meter. lebih parahnya lagi pada tugu tersebut  di cantumkan candra sengkala Wiwaraharja Manunggal Manggalaning Praja. yang selain berarti tahun 1819, juga berarti pintu menuju kesejahteraan bagi para pemimpin Negara. Sangat jauh dari semangat yang tersirat pada bentuk Tugu yang lama. Itu dilakukan karena colonial Belanda untuk mengilangkan lambing persatuan yang ada dalam golong golig demi tujuan politik devide-et-impera (politik pecah belah) pemerintah Hindia Belanda. Selain itu namanya pun diubah menjadi De Witt Pall  atau jika diartikan dalam bahasa indonesia Tugu Pall Putih yang sekarang dikenal dengan Tugu Jogja.

ALUN - ALUN Yogyakarta

ALUN ALUN Yogyakarta
Alun alun adalah tempat atau bisa dikatakan lokasi yang dikelilingi oleh jalan tempat lapang berumput atau tempat bertemu nya masyarakat.alun alun sebenarnya hanyalah halaman depan rumah tetapi dalam ukuran yang besar atau bisa di miliki oleh penguasa seperti raja sultan dll.
Alun alun
  • Filosofi Alun Alun Yogyakartan
Yogyakarta mempunyai 2 alun alun yang biasanya disebut alun alun lor dan alun alun kidul
cerita dari kedua alun alun tersebut:
  1. Beberapa sumber menyebutkan bahwa dulu permukaan alun-alun lor adalah pasir halus yang cocok digunakan untuk tempat latihan para prajurit juga untuk unjuk kehebatan di hadapan Sultan. Sultan dan para pembesar kerajaan duduk di Siti Hinggil, yaitu bagian muka keraton yang memiliki permukaan lebih tinggi untuk melihat atraksi para prajuritnya. Alun-alun Lor juga digunakan untuk “Tapa Pepe”, yaitu suatu bentuk unjuk diri dari rakyat agar didengar dan mendapat perhatian dari sultan.
    Tapa Pepe dilakukan pada siang hari terik di antara dua Pohon Beringin oleh seseorang yang sedang memohon keadilan langsung kepada Sultan. Pada masa lalu di sisi timur alun-alun terdapat pendopo-pendopo kecil yang disebut perkapalan. Perkapalan digunakan oleh para bupati untuk menginap dan beristirahat ketika menghadap sultan.

    Pada zaman dahulu, Alun-alun Lor adalah wilayah sakral dimana tidak sembarang orang diperkenankan untuk memasukinya. Ada aturan-aturan yang wajib dipatuhi jika ingin memasukinya, misalnya tidak boleh menggunakan kendaraan, sepatu, sandal, bertongkat, dan mengembangkan payung. Hal ini dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada Raja.
  2. Alun-alun Kidul (Selatan) adalah alun-alun di bagian Selatan Keraton Yogyakarta. Alun-alun Kidul sering pula disebut sebagai Pengkeran. Pengkeran berasal dari kata pengker (bentuk krama) dari mburi (belakang). Hal tersebut sesuai dengan keletakan alun-alun Kidul yang memang terletak di belakang keraton.
    Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah. Di antara gapura utara dan selatan di sisi barat terdapat ngGajahan sebuah kandang guna memelihara gajah milik Sultan. Luas Alun-alun Kidul sendiri 100x100 meter.
    Di sekeliling alun-alun ditanami pohon mangga. Pohon beringin hanya terdapat dua pasang. Sepasang di tengah alun-alun yang dinamakan Supit Urang ( harfiah = capit udang ) dan sepasang lagi di kanan-kiri gapura sisi selatan yang dinamakan Wok ( dari kata bewok, harfiaf = jenggot ). Dari gapura sisi selatan terdapat jalan Gading yang menghubungkan dengan Plengkung Nirbaya. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah.
    Siti Hinggil yaitu tanah yang tinggi, siti : tanah dan hinggil : tinggi. Siti Hinggil Kidul atau yang sekarang dikenal dengan Sasana Hinggil Dwi Abad terletak di sebelah utara alun-alun Kidul. Luas kompleks Siti Hinggil Kidul kurang lebih 500 meter persegi. Permukaan tanah pada bangunan ini ditinggikan sekitar 150 cm dari permukaan tanah di sekitarnya. Sisi timur-utara-barat dari kompleks ini terdapat jalan kecil yang disebut dengan Pamengkang, tempat orang berlalu lalang setiap hari. Dahulu di tengah Siti Hinggil terdapat pendapa sederhana yang kemudian dipugar pada 1956 menjadi sebuah Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad sebagai tanda peringatan 200 tahun kota Yogyakarta.
    Siti Hinggil Kidul digunakan pada zaman dulu oleh Sultan untuk menyaksikan para prajurit keraton yang sedang melakukan gladi bersih upacara Garebeg, tempat menyaksikan adu manusia dengan macan (rampogan) dan untuk berlatih prajurit perempuan, Langen Kusumo. Tempat ini pula menjadi awal prosesi perjalanan panjang upacara pemakaman Sultan yang mangkat ke Imogiri. Sekarang, Siti Hinggil Kidul digunakan untuk mempergelarkan seni pertunjukan untuk umum khususnya wayang kulit, pameran, cara keagamaan dan sebagainya.
    Disebelah utara alun-alun kidul terdapat sebuah trateg, sebuah tempat berteduh, beratap anyam-anyaman bambu dan kanan kirinya ditanami pohon-pohon gayam. Kanan kiri Sitihinggil ada 2 buah jalan yang bertemu satu sama lainnya di Regol Kemandungan, sebelah utara sitiginggil ini dahulu terdapat sebuah bangunan berbentuk pendopo, ditengah-tengah ada selogilangnya, tempat duduk sri sultan. Halaman Sitihinggil ditanami pohon “Soka” dan pohon “Palem Cempora”. Bungan pohon-pohon ini rupanya bagus sekali, berambut halus, berkumpul dalam satu tangkai bunga. Rupanya merah dan putih. Kalau Sri Sultan duduk diatas selogilang tengah-tengah pendopo sitihinggil ini, baginda selalu dihadap kerabat kraton dan abdi-abdi dalem lainnya, pria wanita, banyak sekali.
  • Foto alun alun
Hasil gambar untuk filosofi alun alun yogyakarta


Hasil gambar untuk filosofi alun alun yogyakarta

KIRAB Yogyakarta

 KIRAB GUNUNGAN Yogyakarta
Adat yogyakarta masih sangat kental dengan budaya yang lokal dan masih nguri uri budaya jawa sendiri.Biasanya masyarakat menyebut nya grebeg sekatenan.
  •      FILOSOFI GREBEG

Kata grebeg berasal dari kata gumrebeg yang memiliki filosofi sifat riuh, ribut dan ramai.
Grebeg adalah prosesi adat sebagai simbol sedekah dari pihak Kraton Yogyakarta kepada masyarakat berupa gunungan. Kraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahunnya selalu mengadakan upacara grebeng sebanyak tiga kali pada hari besar Islam, yaitu Grebeg Syawal pada Hari Raya Idul Fitri, Grebeg Besar bertepatan pada Hari Raya Idul Adha dan Grebeg Maulud yang lebih populer Grebeg Sekaten pada peringatan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW. 
Gunungan sendiri adalah representasi dari hasil bumi (sayur dan buah) serta jajanan (rengginang).Pada Grebeg Sekaten, gunungan yang dijadikan simbol kemakmuran ini mewakili keberadaan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Gunungan yang digunakan bernama Gunungan Jaler (pria), Gunungan Estri (perempuan), serta Gepak dan Pawuhan. Gunungan ini dibawa oleh para abdi dalem yang menggunakan pakaian dan peci berwarna merah marun dan berkain batik biru tua bermotif lingkaran putih dengan gambar bunga di tengah lingkarannya. Semua abdi dalem ini tanpa menggunakan alas kaki alias nyeker.
akhir dari prosesi acara grebeg adalah rayahan atau berebut gunungan yang direbutkan oleh masyarakat yogyakarta
  • FOTO Kemeriyahan Grebeg
 Hasil gambar untuk filosofi kirab budaya yogyakarta